Selamat Datang Di Tarojjumah.Com - Selamat Datang Di Tarojjumah.Com - Selamat Datang Di Tarojjumah.Com

Rabu, 24 April 2013

Pengalaman Pribadi Bagian 1 (Penyesalan Yang Tiada Arti)



Penyesalan Yang Tiada Arti
Oleh : Muh. Rifai

Sewaktu saya duduk dibangku SLTA, tepatnya disebuah SLTA Negeri di Wonosobo, aku tak pernah memikirkan akan arti hidup, sekolahpun semaunya penampilan tak kuperhatikan, rambut gonderong dan acak-acakan, disekolahan setiap pagi hampir bissa dipastikan telat, sehingga setiap pagi saya harus berjemur didepan ruang BP. Saya masih ingat betul guru BP yang selalu menghukum saya, bahkan saya dipotong rambutnya didalam kelas saat Semesteran berlangsung, sampai siswa-siswi yang ada didalam kelas semua mentertawakan aku, tapi aku tidak merasa malu atau dicemo’oh. Itu terjadi ditahun pertama di Wonosobo.
Pada tahun kedua saya sering tidak masuk kelas, padahal saya selalu minta izin Pak kyai saya, ketika saya mau berangkat kesekolah, tidak tahunya saya sampai ke Dieng ke Banjarnegara itu terjadi hampir setiap hari, dan itu tak pernah diketahui oleh Kyai saya.
Suatu ketika saya pamit pak Kyai untuk berangkat sekolah, tapi malahan tiduran rumah orang kampung disebelah Pesantrenku dan ini saya lakukan berulangkali, tiba-tiba ada istri kyai saya menuju kearah saya dimana saya dan teman saya sedang tiduran sambil mendengarkan lirik lagu yang dinyanyikan Iwan Fals dikamar teman santri dikampung tersebut, kemudian saya dipanggil dihadapkan kepada pak Kyai untuk dinasihati dan diarahkan, namun masih saja belum berubah.
Saatnya yang kebanyakan siswa-siswi menunggu-nungu yaitu pembagian raport kenaikan kelas yang dibarengi dengan kecemasan akan hasil nilai raportnya. Namun saya sama sekali peduli dengan hal itu, justru disaat seperti itu saya malahan pulang kampung tanpa merasa ada sesuatu yang membebani dan menghawatirkan akan sesuatu yang tidak diinginkan oleh kabanyakan pelajar “tidak naik kelas”. Raport saya tidak saya ambil, sementara saya tidak bilang sama orang tua kalau hari itu adalah hari pengambilan raport, nampaknya orang tua saya tahu, sehingga menanyakan kapada saya, sajawab “tidak diambil tidak apa-apa pak, biar nanti pak Kyai yang ngambil” beberapa hari kemudian liburan belum usai ada surat dari sekolahan saya yang inti panggilan terhadap orangtua saya agar untuk mengetahui keberadaan saya disekolah tersebut. Akhirnya saya dikeluarkan dari sekolah tersebut.
Menjelang tahun pelajaran baru tiba, saya dipaksakan lagi oleh orangtua untuk melanjutkan sekolahnya, namun saya menolak dengan keras, bahkan Raport yang dari Sekolahan Wonosobo-pun saya bakar, orangtua saya dengan penuh kesabaran memintakan raport kembali sekolah di Wonosobo. Kemudian akupun menurutinya  untuk melanjutkan sekolah dan nyantri disebuah sekolah terpadu di daerah kota Magelang, watu itu juga diberangkatkan ke Magelang dan saya harus mengulag dari kelas dua SLTA lagi.
Pada tahun pertama di Magelang saya kelihatan agak rajin dan menuruti peraturan yang berlaku akhirnya saya mendapat pringkat dari 38 siswa dalam satu kelas, namun pada tahun kedua saya mulai berontak lagi terhadap aturan-aturan yang diterapkan asrama itu, saya menghilang dari asrama kurang lebih 2 minggu “menginap dikost-kost-an temen” dalam 2 minggu itu kerjaan saya siang tidur malamnya bergadang sampai pagi. Akhirnya keberadaan saya di tempat kost teman sya ada yang melaporkan ke Pak Kyai, langsung saya dipanggil oleh pak Kyai saya. Saya mendapat pengawasan ketat dari Pengurus Asrama “ bagaikan maling dalam tahanan” tapi saya merasa senang kadang saya dipanggil pak Kyai untuk mencukur rabut beliau, kadang-kadang saya panggil untuk memijit beliau, sehingga saya merasakan ada kedekatan terhadap pak Kyai.
Dua tahun sudah saya di Kota Magelang, dipesantrenpun hanya tidur-tiduran orang jawa mengatakan “pindah turu, pindah mangan, pindah ngising”.
Tak pernah terbayang akan kasih sayang orangtua. Tak tahu menahu apa itu arti kasih sayang, hidupku tak tentu arah, tak punya tujuan. Orang tua sudah berulangkali memberi nasihat kepadaku untuk memilih apa yang menjadi keinginanku, namun pilihan orangtuaku hanya ada dua “dipesantren atau kuliah” oleh karena itu akupun terpaksa memilih di pesantren.
Selang beberapa bulan kemudian aku merasakan jenuh dan membosankan, diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuaku, akupun pindah dari pesantren yang aku pilih waktu itu, lama kelamaan orangtuakupun tahu akan keberadaanku dipesantren, tetapi orangtua aku tetap menyemangati aku walau aku slalu pindah-pindah pesantren. Tidak lama kemudian walhasil sama dengan dipesantren yang sebelumnya, yang saya rasakan hanyalah membosankan, disore hari aku menuju pinggiran jalan pantura sambil memandangi bus yang lewat dari arah Jakarta ke Surabaya atau sebaliknya Surabaya ke Jakarta, tak terasa kumandang adzan terngiang ditelingaku, astaghfirullah waktu sudah maghrib kenapa aku masih pinggir jalan ? tanyaku didalam hati. Kemudian aku pulang menuju pesantren dimana aku nyantri disitu.
Malam itu saya tak bisa tidur karena membayangkan teman-temanku yang sudah bisa cari uang sendiri lantaran ketidakmampuan keluarga untuk menyekolahkan atau memondokkan dipesantren, betapa bahagianya temen-temenku yang sudah kerja, bisa bebas melakukan apasaja  dirantau sana “Ibu Kota Jakarta” tak ada pikir panjang keinginanku seperti teman-teman yang sudah bekerja di Jakarta, pagi harinya saya cuci pakaian yang kotor, saya persiapkan tas ransel, setelah pakaian kering saya masukkan ke ransel tersebut.
Sesudah sholat maghrib akupun keluar dari pesantren itu tanpa ada tujuan yang pasti, sambil berjalan menuju jalan Pantura aku berfikir dan bertanya-tanya dalam hati “mengapa saya menghianati orangtuaku sendiri, mengapa saya harus pergi dari pesantren” padahal orangtuaku sudah merasa gembira dan bahagia bahwa saya sudah tiga bulan betah dipesantren.tak terasa sampailah aku dipinggir jalan raya dalam hati berfikir lagi “perang bathin” antara pulang kerumah atau pergi kejakarta, belum sempat menemukan jawabannya  tiba-tiba sebuah bus jurusan Surabaya – Jakarta berhenti didepan saya, tanpa pikir panjang akupun naik bus tersebut
Bersambung......................

Senin, 22 April 2013

Aku Dapat Merubah Segalanya



Namaku : UANG (Rugi jika tidak baca, ϑά̲̣̥ñ jangan lupa share) Wajahku biasa saja, fisikku juga lemah, namun ąк̲̣̣̥ú mampu merombak tatanan dunia. Ąк̲̣̣̥ú juga "bisa" merubah perilaku, bahkan sifat manusia karena manusia mengidolakan ąк̲̣̣̥ú. Banyak orang merubah kepribadiannya,­­­­ mengkhianati teman, menjual tubuh, bahkan meninggalkan keyakinan imannya, demi ąк̲̣̣̥ú ! Ąк̲̣̣̥ú tdk mengerti perbedaan orang salah ϑά̲̣̥ñ bejat, tapi manusia memakai ąк̲̣̣̥ú menjadi patokan derajat, menentukan kaya miskin & terhormat atau terhina. Ąк̲̣̣̥ú bukan iblis, tapi sering orang melakukan kekejian demi ąк̲̣̣̥ú. Ąк̲̣̣̥ú juga bukan org ketiga, tapi banyak suami istri pisah gara2 ąк̲̣̣̥ú. Anak ϑά̲̣̥ñ orangtua berselisih gara2 ąк̲̣̣̥ú. Sangat jelas juga ąк̲̣̣̥ú bukan Tuhan, tapi manusia menyembah ąк̲̣̣̥ú spt Tuhan, bahkan kerap kali hamba2 Tuhan lebih menghormati ąк̲̣̣̥ú, padahal Tuhan sudah pesan jgn jadi hamba uang.. Seharusnya ąк̲̣̣̥ú melayani manusia, tapi kenapa malah manusia mau jadi budakku? Ąк̲̣̣̥ú tdk pernah mengo

Tujuan Hidup Harus Dirumuskan (Konsep Hidup)



Tujuan Hidup Harus Dirumuskan (Konsep Hidup)
Banyak orang sekedar menjalani hidupnya, mengikuti arus kehidupan, terkadang berani melawan arus, dan menyesuaikan diri, tetapi apa yang dicari dalam melawan arus, menyesuaikan diri dengan arus atau dalam pasrah total kepada arus, tidak pernah dirumuskan secara serius. Ada orang yang sepanjang hidupnya bekerja keras mengumpulkan uang, tetapi untuk apa uang itu dan mau ditasrufkan kemana baru dipikirkan setelah uang terkumpul, bukan dirumuskan ketika memutuskan untuk mengumpulkannya. Ada yang ketika mengeluarkan uang tidak sempat merumuskan tujuannya, sehingga hartanya terhambur-hambur tanpa arti. Ini adalah model orang yang hidup tidak punya konsep hidup.  Jarang orang merumuskan tujuan hidupnya. Merumuskan apa yang dicari dalam hidupnya, apakah hidup­nya untuk makan atau makan untuk hidup.
Makna tentang tujuan hidup sampai kapan pun masih tetap penting untuk direnungkan. Bagaimanapun seorang Muslim mesti sadar bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara tidak kekal bahkan terlampau singkat. Kita cuma diberikan kesempatan yang sangat sebentar, bagaikan seorang musafir yang berhenti di sebuah oase, setelah istirahat sebentar dia mempersiapkan perbekalan lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir. 
Rumusan tujuan hidup yang didasari pada nilai ajaran agama menempati posisi sentral, yakni orang yang hormat dan tunduk kepada nilai-nilai agama yang diyakininya, melalui pemahaman yang benar dan matang terhadap ajaran agama, Menurut ajaran Islam, tujuan hidup manusia ialah untuk menggapai ridha Allah, ibtigha mardhatillah. Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat 207 ومن الناس من يشرى نفسه ابتغاء مرضاة الله والله رؤوف بالعباد, yang arti­nya : “Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” 
Ridha artinya senang. Jadi segala pertimbangan tentang tujuan hidup seorang Muslim, terpulang kepada apakah yang kita lakukan dan apa yang kita gapai itu sesuatu yang disukai atau diridhai Allah SWT atau tidak. Jika kita berusaha memperoleh ridha-Nya, maka apapun yang diberikan Allah kepada kita, kita akan menerimanya dengan ridha (senang) pula, ridha dan diridhai (radhiyatan mardhiyah) 
Kita bisa mengetahui sesuatu itu diridhai atau tidak oleh Allah. Tolok ukur pertama adalah syariat atau aturan yang ditetapkan agama, sesuatu yang diharamkan atau dilarang oleh Allah pasti tidak diridhai dan bila kita melakukannya atu melanggarnya kita akan mendapat dosa; dan sesuatu yang halal atau diperintahkan agama pasti diridhai yang apabila kita mengerjakannya kita akan mendapat pahala. Selanjutnya nilai-nilai akhlak akan menjadi tolok ukur tentang kesempurnaan, misalnya memberi kepada orang yang meminta karena kebutuhan adalah sesuatu yang diridhai-Nya; tidak memberi tidak berdosa tetapi kurang disukai. 
Indikator ridha Allah juga dapat dilihat dari dimensi horizontal, Nabi bersabda : “Bahwa ridha Allah ada bersama ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada bersama murka kedua orang tua”. Semangat untuk mencari ridha Allah sudah barang tentu hanya dimiliki orang-orang yang beriman, sedangkan bagi mereka yang tidak mengenal Tuhan, tidak mengenal agama, maka boleh jadi pandangan hidupnya dan prilakunya sesat, tetapi mungkin juga pandangan hidupnya mendekati pandangan hidup orang yang minus beragama, karena toh setiap manusia memiliki akal yang bisa berfikir logis dan hati yang di dalamnya ada nilai kebaikan. 
Metode untuk mengetahui ridla Allah SWT juga diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dengan cara bertanya kepada hati sendiri, istafti qalbaka. Orang bisa berdusta, berbohong dan mengelabui orang lain, tetapi ia tidak dapat melakukannya kepada hati sendiri. Hanya saja hati orang berbeda-beda. Hati yang gelap, hati yang kosong, dan hati yang mati, sulit dan bahkan tidak bisa ditanya. Hati juga kadang-kadang tidak konsisten, oleh karena pertanyaan paling tepat kepada hati nurani, Nurani berasal arti kata nur, cahaya. Orang yang nuraninya hidup maka ia selalu menyambung dengan ridha Tuhan. Problem hati nurani adalah cahaya nurani sering tertutup oleh keserakahan, egoisme, dan kemaksiatan. 
Menurut ajaran Islam, tugas hidup manusia, sepanjang hidupnya hanya satu tugas, yaitu menyembah Allah, Sang Pencipta, atau dalam bahasa harian disebut ibadah. Allah berfirman dalam kitab suci al Qur'an yang berbunyi "وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون yang artinya "tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku". Menjalankan ibadah bukanlah tujuan hidup, tetapi merupakan tugas yang harus dikerjakan oleh mahluk Allah sepanjang hidupnya. Ibadah mengandung arti untuk menyadari dirinya kecil tak berarti, meyakini kekuasaan Allah Yang Maha Besar, Sang Pencipta, dan disiplin dalam kepatuhan kepada-Nya. Oleh karena itu orang yang menjalankan ibadah mestilah bersikap rendah hati, tidak sombong, menghilangkan egoisme dan Istiqomah untuk terus berupaya agar selalu dalam ridla dan bimbingan-Nya. Itulah etos ibadah. Ibadah ada yang bersifat mahdhah/murni, yakni ibadah yang hanya memiliki satu dimensi, yaitu dimensi vertikal, patuh tunduk kepada Allah Yang Maha Kuasa, seperti shalat dan puasa. Ibadah juga terbagi menjadi dua klasifikasi; ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus adalah ritual yang bersifat baku yang ketentuannya langsung dari wahyu atau dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan ibadah umum adalah semua perbuatan yang baik, dikerjakan dengan niat baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula. 
Ibadah khusus seperti shalat lima waktu sehari semalam adalah tugas, taklif dari Allah SWT yang secara khusus diperuntukkan kepada orang-orang mukmin yang telah baligh. Puasa, Zakat (zakat fitrah, zakat mal) bagi yang telah memenuhi syaratnya, dan ibadah haji bagi yang mampu, memotong hewan kurban bagi yang mampu semuanya adalah taklif. 
Dan ibadah ghairu mahdhah, seperti berbisnis, karena inti dari berbisnis adalah membantu mendekatkan orang lain dari kebutuhannya. Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat besar nilainya asal dilakukan dengan niat baik dan cara yang baik pula. Dengan demikian kita dapat melakukan tugas ibadah dalam semua aspek kehidupan kita, sesuai dengan bakat, minat, dan profesi kita. Perbedaan pandangan hidup akan menghasilkan perbedaan nilai dan persepsi. Orang yang tidak mengenal ibadah, mungkin sangat sibuk dan lelah mengerjakan tugas sehari-hari, tetapi nilainya nol secara vertikal, sementara orang yang mengenal ibadah, mungkin sama kesibukannya, tetapi cara pandangnya berbeda dan berbeda pula dalam mensikapi kesibukan, maka secara psikologis/kejiwaan ia tidak merasa lelah karena merasa sedang beribadah. 
Manusia memiliki dua peran utama di dunia ini; pertama sebagai hamba Allah, dan peran kedua sebagai khalifah (Wakil) Allah di muka bumi. Sebagai hamba Allah manusia adalah kecil dan tidak memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya hanya menyembah kepada-Nya dan berpasrah diri kepada-Nya. 
Namun, sebagai khalifah, manusia diberi fungsi, peran yang sangat besar, karena Allah Yang Maha Besar maka manusia sebagai wakil Allah di muka bumi memiliki tanggungjawab dan otoritas yang sangat besar. Sebagai khalifah manusia diberi tugas untuk mengelola alam semesta ini untuk kesejahteraan manusia Oleh karenanya manusia dituntut beramal shaleh, menghindari dosa, menyuruh berbuat baik, melarang berbuat mungkar, jujur dan menghiasi diri dengan sikap yang dianjurkan oleh agama. 

Menggapai Kehidupan Yang Hakiki Dengan Taqwa



Menggapai Kehidupan Yang Hakiki Dengan Taqwa
Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah.
Hanya taqwa kepadaNyalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari adzabNya di dunia maupun di akhirat nanti, karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi Surga Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Pengertian taqwa itu sendiri mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari adzabNya, hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang di perintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya.
Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaanNya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallaahu anhu berkata, “Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut (kepada Dzat yang engkau takuti)”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Takut kepada Allah, ridha dengan ketentuanNya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti.”
Pada hakekatnya Allah Subhannahu wa Ta'ala mewasiatkan taqwa ini, bukan hanya pada umat Nabi Muhammad, melainkan Dia mewasiatkan kepada umat-umat terdahulu juga, dan dari sini kita bisa melihat bahwa taqwa merupakan satu-satunya yang diinginkan Allah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala menghimpun seluruh nasihat dan dalil-dalil, petunjuk-petunjuk, peringatan-peringatan, didikan serta ajaran dalam satu wasiat yaitu Taqwa.
Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Di samping itu taqwa juga merupakan sebaik-baiknya pakaian dan bekal orang mu’min, hal ini seperti yang digambarkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dalam firmanNya surat Al-A’raaf ayat 26 dan Al-Baqarah ayat 197. Allah berfirman:
Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. (Al-A’raaf: 26).
Allah Ta'ala menganugerahkan kepada hamba-hambaNya pakaian penutup aurat (al-libas) dan pakaian indah (ar-risy), maka al-libas merupakan kebutuhan yang harus, sedangkan ar-risy sebagai tambahan dan penyempurna, artinya Allah menunjuki kepada manusia bahwa sebaik-baik pakaian yaitu pakaian yang bisa menutupi aurat yang lahir maupun batin, dan sekaligus memper-indahnya, yaitu pakaian at-taqwa.
Qasim bin Malik meriwayatkan dari ‘Auf dari Ma’bad Al-Juhani berkata, maksud pakaian taqwa adalah al-hayaa’ (malu). Sedangkan Ibnu Abbas berpendapat bahwa pakaian taqwa adalah amal shalih, wajah yang simpatik, dan bisa juga bermakna segala sesuatu yang Allah ajarkan dan tunjukkan.
Adapun taqwa sebagai sebaik-baiknya bekal sebagaimana tertuang dalam firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepadaKu, hai orang-orang yang berakal”
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat tersebut, dengan menyatakan bahwa kalimat “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”, menunjukkan bahwa tatkala Allah memerintahkan kepada hambaNya untuk mengambil bekal dunia, maka Allah menunjuki kepadanya tentang bekal menuju akhirat (yaitu taqwa).
Seandainya kita mampu mengaplikasikan atau merealisasikan, kedua ayat di atas bukanlah suatu hal yang mustahil, dan itu merupakan modal utama bagi kita untuk bersua kepada Sang Pencipta.
banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut, di antaranya:
1. Mahabbatullah
2. Muraqabatullah (merasakan adanya pengawasan Allah)
3. Menjauhi penyakit hati
4. Menundukkan hawa nafsu
5. Mewaspadai tipu daya syaitan
1.   Mahabbatullah
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Mahabbah itu ibarat pohon (kecintaan) dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah ma’rifah kepadaNya, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadapNya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya, bahan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya, kapan saja, jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).
2.   Merasakan adanya pengawasan Allah.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hadid: 4).
Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan di mana saja kamu berada. Di darat ataupun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berada dalam ilmuNya, Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, di mana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang kamu fikirkan”. (Tafsir Al-Qur’anul Adzim, IV/304).
3.   Menjauhi penyakit hati
Di dunia ini tidak ada yang namanya kejahatan dan bencana besar, kecuali penyebabnya adalah perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Adapun penyebab dosa itu teramat banyak sekali, di antaranya penyakit hati, penyakit yang cukup kronis, yang menimpa banyak manusia, seperti dengki, yang tidak senang kebahagiaan menghinggap kepada orang lain, atau ghibah yang selalu membicarakan aib orang lain, dan satu penyakit yang tidak akan diampuni oleh Allah yaitu Syirik. Oleh karena itu mari kita berlindung kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dari penyakit itu semua.
4.   Menundukkan hawa nafsu
Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan tanda adanya nilai takwa dalam pribadi kita serta di akhirat mendapat balasan Surga. Seperti firman Allah yang artinya:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi’at: 40-41)
5.   Mewaspadai tipu daya syaithan
Seperti kita ketahui bersama bahwasanya syaithan menghalangi orang-orang mu’min dengan beberapa penghalang, yang pertama adalah kufur, jikalau seseorang selamat dari kekufuran,
syaitan menggunakan cara yang kedua yaitu dengan dosa-dosa besar, jika masih tak berhasil dengan cara ini ia menggoda dengan perbuatan mubah, sehingga manusia menyibukkan dirinya dalam perkara ini, jika tidak mampu juga maka syaithan akan menyerahkan bala tentaranya untuk menimbulkan berbagai macam gangguan dan cobaan silih berganti.
maka tidak diragukan lagi, bahwa mengetahui rintangan-rintangan yang dibuat syaithan dan mengetahui tempat-tempat masuknya ke hati anak Adam dari bujuk rayu syaithan merupakan poin tersendiri bagi kita. marilah kita berharap kepada Allah semoga kita termasuk orang-orang yang Muttaqin yang selalu istiqomah pada jalanNya.
Terima kasih telah berkunjung di blog kami.. Semoga bermanfaat!!